Sermon Tone Analysis

Overall tone of the sermon

This automated analysis scores the text on the likely presence of emotional, language, and social tones. There are no right or wrong scores; this is just an indication of tones readers or listeners may pick up from the text.
A score of 0.5 or higher indicates the tone is likely present.
Emotion Tone
Anger
0.07UNLIKELY
Disgust
0.12UNLIKELY
Fear
0.1UNLIKELY
Joy
0.21UNLIKELY
Sadness
0.51LIKELY
Language Tone
Analytical
0.02UNLIKELY
Confident
0.16UNLIKELY
Tentative
0UNLIKELY
Social Tone
Openness
0.05UNLIKELY
Conscientiousness
0.13UNLIKELY
Extraversion
0.44UNLIKELY
Agreeableness
0.6LIKELY
Emotional Range
0.2UNLIKELY

Tone of specific sentences

Tones
Emotion
Anger
Disgust
Fear
Joy
Sadness
Language
Analytical
Confident
Tentative
Social Tendencies
Openness
Conscientiousness
Extraversion
Agreeableness
Emotional Range
Anger
< .5
.5 - .6
.6 - .7
.7 - .8
.8 - .9
> .9
Tujuh Dosa Maut
Pride (kesombongan), envy (iri hati), sloth (malas), gluttony (rakus), anger (kemarahan), lust (nafsu) dan greed (keserakahan).
Tujuh dosa ini merupakan dasar dari semua dosa lainnya.
Contoh: Membunuh?
Mencuri?
Memperkosa?
Kesombongan merupakan problem utama yang menyebabkan dosa lainnya.
“Kesombongan adalah kejahatan yang paling buruk dari semuanya, karena kesombongan menyerang jiwa melalui nilai-nilai dan juga kebiasaan yang jahat.
Kesombongan dibenci oleh Allah dan manusia.
… Kesombongan adalah dosa mula-mula; kesombongan juga dosa terakhir yang menjadi pergumulan besar bagi setiap manusia.
Ketika hamba Allah telah berhasil meninggalkan semua kejahatan dan mencapai suatu tingkat kerohanian tertentu, dia masih harus terus menerus melawan dosa dan apabila dia tidak terus-menerus melawan kesombongan, maka segala usahanya untuk mencapai kebajikan itu menjadi sia-sia.”—Hugh of St. Victor (1096-1141)
Pride is the worst of all vices, because it attacks the soul through its virtues as well as through its evil habits.
Pride is hateful to God and men.…
It is the first prompting in the committing of sin; it remains the last in the struggle against sin.
Indeed when the servant of God has overcome other vices and has reached the heights of virtue, she still has to face the battle against pride, and if she do not engage in the struggle her labor in other directions will be in vain.
Kesombongan sangatlah Berbahaya!
Amsal 16:18: “Kecongkakan mendahului kehancuran, tinggi hati mendahului kejatuhan.”
Kejatuhan Iblis dikarenakan dosa (ay.
13-14)
ay.
13: “Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, ...
ay.
14: Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai yang mahatinggi.
Allah membenci kesombongan.
Amsal 3:34: “Apabila Ia menghadapi pencemooh, maka Ia pun mencemooh.”
Yakobus 4:6-7: “Allah menentang orang congkak, ...”
Dosa manusia yang pertama adalah kesombongan.
Apa arti kesombongan?
Kita mungkin dapat meraba-raba apa arti kesombongan, tapi saya rasa kata kesombongan sendiri sangat sulit untuk didefinisikan.
Misalkan saja lawan dari kata sombong adalah rendah hati, jadi arti sombong adalah tidak rendah hati.
Tapi, apakah arti dari rendah hati?
Tidak sombong.
Walau pun di dalam sense, kita dapat merasa bahwa kesombongan adalah “sesuatu” yang salah namun kita sulit untuk mendefinisikannya.
Tapi, kesombongan dapat dijelaskan dengan beberapa kata yang lain.
Kesombongan dapat dijelaskan dengan empat kata yaitu bebal, perlawanan, penyembahan berhala, dan meleset.
Bagaimana kita melihat keempat hal ini?
Saya melihat bahwa kunci dari hal ini ada pada Kejadian 3:5.
Saya mengklaim bahwa apa arti sombong adalah frasa “engkau akan menjadi Tuhan”
Kesombongan sebagai wujud KEBEBALAN dan .
Mazmur 14:1 berkata: “Orang bebal berkata dalam hatinya: ‘tidak ada Allah.”
Allah berkata bahwa pada mulanya Dia menciptakan bahwa taman Eden merupakan tempat yang baik.
Kata baik di sini dapat dimaknai juga sebagai tempat yang sempurna yang diciptakannya.
Tapi, hal yang paling sempurna sebenarnya adalah keberadaan Allah di dalam taman itu.
Secara materi, seluruh ciptaan ini sangatlah baik karena itu manusia perlu mengembangkan apa yang Tuhan percayakan.
Tapi, secara spiritual taman itu baik karena ada Allah di dalamnya.
Ketika ular berkata: “Engkau akan menjadi seperti Allah.”
Berarti sejatinya sang perempuan dan laki-laki sadar bahwa mereka tidak membutuhkan Allah secara spiritual itu.
“Friedrich Nietzsche menyatakan bahwa Allah sudah mati” tapi saya pikir kesombongan di dalam cara pandang ini melihat bahwa Allah memang sudah mati.
Tidak bersyukur merupakan wujud kesombongan karena ketika kita tidak bersyukur pada waktu itu kita sedang menganggap bahwa Allah tidak ada.
Berani melakukan hal-hal yang tidak terpuji ketika sendirian.
Apabila mata Tuhan melihat, maka apa yang kita lakukan di dalam kesendirian kita?
Kesombongan sebagai wujud PERLAWANAN
Dosa secara sejati-Nya dimaknai sebagai Hata yang artinya meleset dari apa yang Tuhan mau.
Kita semua diciptakan untuk menjadi wakil Allah di dalam dunia ini (Kej.
1:28-31) .
Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."
Berfirmanlah Allah: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.
Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya."
Dan jadilah demikian.
Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.
Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.
()
()
Tidak hanya itu, kita juga diciptakan untuk menjaga keteraturan yang Allah sudah berikan.
Kita menjadi wakil Allah di dalam dunia ini.
Ketika kita menjadi Allah.
Maka terjadi pembunuhan terhadap Habel (seharusnya ada pemekaran wilayah), terjadi pembunuhan terhadap binatang dan terkutuknya tanah.
Puncaknya adalah menara babel.
Kejadian 10:8-9 dan Kejadian 11
Deutrovsky: Ketika tidak ada Allah maka manusia dapat melakukan apa saja.
Kesombongan sebagai wujud PENYEMBAHAN BERHALA
Manusia diciptakan untuk menyembah Allah.
Dikatakan di dalam kisah penciptaan bahwa kita dijadikan sebagai “segambar dan serupa dengan Allah.”
Tapi sebenarnya kesombongan ini membuat manusia membuat “gambar yang lain”
Yesaya 37:19: “ dan menaruh para allah mereka ke dalam api, sebab mereka bukanlah Allah, hanya buatan tangan manusia, kayu dan batu; sebab itu dapat dibinasakan orang.”
Yeremia 1:16: “ dan menaruh para allah mereka ke dalam api, sebab mereka bukanlah Allah, hanya buatan tangan manusia, kayu dan batu; sebab itu dapat dibinasakan orang”
2 Timotius 3:2: “manusia akan mencintai dirinya sendiri.”
Narsisme semacam bentuk “penymbahan berhala” Facebook!
Kenyamanan dan kemudahan pada masa kini menunjukkan bahwa inilah wujud kesombongan.
Kesombongan sebagai wujud MELESETNYA cara pandang manusia terhadap diri dan sesama
Manusia diciptakan dengan sempurna, tapi setelah kejatuhan, ada problem bahwa pemilaian terhadap diri sendiri menjadi blunder.
Karena manusia ingin menjadi yang sempurna padahal dia tidak sempurna.
Kesalehan palsu:
Narsis
< .5
.5 - .6
.6 - .7
.7 - .8
.8 - .9
> .9