Faithlife Sermons

Sermon Tone Analysis

Overall tone of the sermon

This automated analysis scores the text on the likely presence of emotional, language, and social tones. There are no right or wrong scores; this is just an indication of tones readers or listeners may pick up from the text.
A score of 0.5 or higher indicates the tone is likely present.
Emotion Tone
Anger
0.16UNLIKELY
Disgust
0.15UNLIKELY
Fear
0.15UNLIKELY
Joy
0.17UNLIKELY
Sadness
0.3UNLIKELY
Language Tone
Analytical
0UNLIKELY
Confident
0.45UNLIKELY
Tentative
0UNLIKELY
Social Tone
Openness
0.09UNLIKELY
Conscientiousness
0.13UNLIKELY
Extraversion
0.44UNLIKELY
Agreeableness
0.6LIKELY
Emotional Range
0.2UNLIKELY

Tone of specific sentences

Tones
Emotion
Anger
Disgust
Fear
Joy
Sadness
Language
Analytical
Confident
Tentative
Social Tendencies
Openness
Conscientiousness
Extraversion
Agreeableness
Emotional Range
Anger
< .5
.5 - .6
.6 - .7
.7 - .8
.8 - .9
> .9
Pendahuluan
Selamat malam, bapak dan ibu yang saya kasihi di dalam Tuhan YEsus Kristus.
Sungguh suatu kesempatan yang luar biasa bahwa saya diberikan kesempatan untuk membawakan firman Tuhan pada malam ini.
Sebelum katong memulai firman, izinkan beta memperkenalkan diri terlebih dahulu.
Nama Beta Adrianus Yosia.
Beta sekarang sedang pelayanan di Gereja Kristen Kalam Kudus Ambon.
Beta asalnya dari Bandung, Gereja Kalam Kudus Bandung.
Mari katong melihat bagian firman Tuhan dari Wahyu 21:22-23.
Demikianlah firman Tuhan:
Dan aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya; sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu.
Dan kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya.
()
(Why 21:22-23)
Setiap kali beta datang ke ibadah penghiburan, ada dua hal yang selalu beta pikirkan.
Yang pertama, bagaimana nasib dari orang yang su meninggal ini?
Yang kedua, apa yang bisa katong pelajari dari kehidupan orang yang su meninggal ini?
Bagaimanakah keadaan surga?
Untuk pemikiran yang pertama, beta melihat bahwa di dalam kekristenan, bagaimanakah nasib dari orang-orang yang sudah meninggal ini?
Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa ada surga sebagai tempat dari orang-orang yang sudah meninggal di dalam Tuhan.
Lalu, pertanyaannya, seperti apakah surga itu?
Tentu sekali lagi, Katong zeng tau pasti seperti apa surga itu.
Tapi, yang katong tau, Alkitab—firman Allah—bilang par katong kalau di surga itu tempat yang indah sekali.
berkata par katong kalau surga itu:
Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.
(Why 21:4)
(Why 21:4)
Jadi, si surga su seng ada lai penderitaan, su seng ada lai masalah.
Suatu tempat yang nyaman sekali.
Bahkan di ayat yang kita baca tadi, dibilang kalau di surga itu su seng ada lai malam.
Katong bisa lihat dari Wahyu 21:23, dikatakan di sana, su seng ada matahari dan bulan lagi, bagi beta katong dapat maknai bahwa su seng ada malam lai.
Tapi, bagi beta maknanya lebih besar dari itu!
Biasanya lebih takut mana, jalan di lorong yang gelap atau jalan di lorong yang terang?
Tentu lebih takut jalan di lorong yang gelap.
Betul ka seng?
Biasanya katong kunci rumah di waktu malam atau siang?
Biasanya pencuri lebih banyak masuk ke rumah buat menjarah itu kapan?
Waktu malam.
Bisa dibilang, malam itu menggambarkan ketakutan.
Malam itu menggambarkan kegelisahan.
Ketika firman Tuhan bilang par katong kalau su seng ada malam lai, artinya benar-benar su seng ada ketakutan lagi di surga.
Jadi, mau masuk surga ka seng?
Kalau katong su ada di dalam Tuhan su seng usah takut lai.
Itu tempat bagi orang-orang yang percaya kepada Tuhan.
Firman Tuhan yang diambil dari Yohanes 6:47 berkata demikian:
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal.”
()
Buat mama dan anak-anak, buat keluarga dekat dari papa, kakerk seng usah takut lai.
Kalau memang papa su percaya Tuhan, antua su ada di surga sana.
Tempat yang seng ada air mata, tempat yang seng ada ketakutan, tempat yang indah sekali.
Justru Katong bisa bersukacita karena Papa su ada di tempat yang indah.
Tapi sekarang, bagaimana dengan katong yang ada di dunia?
Apakah yang bisa katong pelajari dari peristiwa kematian ini?
Yang pasti adalah bahwa katong semua su pasti meninggal.
Entah karena sakit penyakit, entah karena apa, beta seng tau, tapi yang pasti katong semua pasti meninggal.
Nah, sekarang, apa dampaknya dari mengetahui bahwa kita akan meninggal dan dalam kehidupan yang sekarang?
Apa yang dapat katong pelajari dari peristiwa meninggal ini?
Tentu, ada banyak hal yang katong dapat pelajari dari peristiwa ini.
Tapi, beta mau bahas satu hal saja, yaitu hubungan pribadi dengan Antua.
Bapak dan ibu yang saya kasihi, dari teks yang baru saja kita baca tadi, surga bukan saja bicara tentang suatu tempat yang begitu indah, begitu sempurna seng ada masalah.
Tapi, surga juga bicara tentang suatu tempat di mana katong semua bisa merasakan Allah dengan penuh.
Katong semua bisa bercakap-cakap dengan Allah.
Di dalam Wahyu 21:22, dikatakan bahwa tidak ada bait suci di kota.
Tentu katong semua tau kalau bagi orang-orang Israel, bait suci adalah tempat di mana orang-orang ini bisa ketemu for Tuhan.
Yang menarik, kalau katong bisa bayangkan, ada tiga ruangan di dalam bait suci.
Tapi, orang-orang Israel jgua tau kalau di dalamnya itu seng bisa sembarang orang masuk ke dalam.
Hanya imam besar saja yang dapat masuk ke dalam ruang maha kudus dan itu adalah imam besar saja.
Kalau masuk ke dalam bait suci, terutama ruang yang maha kudus, katong semua pasti mati.
Alasannya karena katong semua berdosa.
Manusia seng bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
Katong seng bisa bertemu dengan Allah, kalau sampe katong melihat muka Allah, katong pasti mati.
Tapi, syukur kepada Tete Manis, antua mengasihi katong samua.
Antua rela mati sehingga katong samua dapat kembali melihat Allah.
Makanya kalau sekarang katong pi ke gereja, katong semua seng mati, mengapa?
Karena katong su diberi karunia oleh Antua.
Nah, tapi yang antua mau dari katong adalah katong samua bisa berelasi kembali dengan Antua.
Jadi, apakah maknanya ketika du surga ada penjelasan mengenai suatu pertemuan yang sempurna dengan Allah?
Jadi bisa dikatakan kalo katong samua nanti bisa pulang kembali ke surga untuk bertemu dengan Antua.
Beta pikir ada satu kebiasaan yang biasanya katong lakukan bisa menggambarkan keadaan ini.
Tapi, ayo kita pikir baek baek.
Misalkan saja, di Ambon ini, katong samua kadang-kadang kumpul dengan keluarga besar sewaktu natal.
Kenapa harus kumpul keluarga besar?
karena kadang-kadang ada juga saudara-saudara katong yang ada di luar negeri atau luar pulau.
Biasanya kalau natal, semua keluarga kumpul di sini.
Nah, beta pikir-pikir, ternyata ada kemiripan antara konsep ini dengan pertemuan dengan Antua di surga nanti.
Paulus bilang kalau tanah air kita ini adalah tanah air surgawi.
Katong semua adalah perantau yang ada di luar tanah air.
Berarti, kalau berdasarkan pola pikir ini, katong semua sekarang sedang merantau.
Kematian adalah awal perjalanan pulang katong semua ke tanah air katong.
Beta pikir-pikir, pertemuan katong dengan Tuhan di surga nanti ibarat kumpul keluarga besar sekali.
Tapi bedanya, kumpul keluarga besar ini hanya dilakukan sekali saja nanti.
Seng ada kumpul-kumpul yang kedua atau ketiga, barang seng mungkin katong mati hidup mati hitup to?
Katong, setiap orang yang mengenal Tuhan dan juga antua semuanya bisa ketemu kembali di sorga.
Jadi, relasi yang dipulihkan par antua akan membuat kita rukun.
Nah, ayo katong pikirkan sekarang.
Kalau katong ada seng enak hati dengan saudara-saudara, apa yang terjadi kalau sampai ketemuan?
Seng enak.
Atau misalkan kalau ada saudara yang pi keluar negeri, tapi seng pernah telepon telepon atau seng mau ikut kumpul, gimana rasanya?
Ih, sombong sekali.
Jadi, tentu hubungan kita dengan Tuhan perlu dibangun, itu maksud beta.
Bagi beta, kehidupan yang punya relasi yang baik dengan Antua su dituliskan di dalam Alkitab.
Aplikasinya sederhana, misalkan kalau bamaki, kira-kira Antua senang kah seng?
Jadi, bagi beta ayat ini mengingatkan ktia bahwa kita perlu membangun relasi dengan antua.
< .5
.5 - .6
.6 - .7
.7 - .8
.8 - .9
> .9